Jakarta, Putihhitam.com- Pengadilan Negeri Jakarta Timur kembali gelar persidangan kasus pengeroyokan yang dilakukan oleh Terdakwa Hj Murni Nur dengan menantunya Agus Setiawan dengan nomor perkara No 1196/PID.B/2017/PN.JKT.TIM, terhadap korban bernama Supriatin, Kamis (11/1).

Supriatin atau Atin biasa dipanggil oleh teman seprofesinya sebagai Pekerja Rumah Tangga, mengalami pengeroyokan pada bulan suci ramadhan tahun lalu, dimana hal tersebut terjadi di rumah majikan Atin yang baru.

Sidang kedua ini dengan agenda Pemeriksaan Saksi Korban, sidang yang dihadiri oleh Supriatin dan didampingi Kuasa Hukum Romy Leo Rinaldo dan mantan koleganya di LBH Jakarta Agung Sugiarto. Serta dipantau oleh beberapa organisasi perempuan seperti LBH Apik dan Komnas Perempuan.

Sebelum menghadiri sidang pada pukul 15.00, Atin didampingi oleh Romy Leo Rinaldo yang merupakan Advokat dari Advokat Pro Rakyat menyambangi Komnas Perempuan, yang di terima oleh Komisioner Komnas Perempuan yaitu Saur Tumiur Situmorang dikantor Komnas Perempuan pada pukul 11.00.

Hal tersebut Atin menyampaikan keluhannya mengenai tidak ditahannya salah satu terdakwa yang mana pelaku menurut kuasa hukum atin ( Romy Leo Rinaldo ) adalah Intelktual Dader ( otak dari pengeroyokan tersebut ).

Dalam kesempatan tersebut Saur Tumiur menyatakan bahwa, Jaksa mestinya berprespektif sebagai korban dan bukan merugikan kepentingan korban, mengingat Jaksa merupakan wakil/kuasa dari korban dipersidangan.

Komnas Perempuan juga akan mengingatkan majelis hakim tersebut untuk ikut dalam Perma No 3 Tahun 2017 tentang Pedoman Hakim dalam mengadili perkara Perempuan sebagai korban.

Lebih lanjut, Romy Leo Rinaldo pun meminta kepada Komnas Perempuan agar jaksa melakukan penahanan mengingat sudah ada MoU ( Memorandum of Understanding ) antara Komnas Perempuan dengan Kejaksaan terkait penanganan perkara perempuan sebagai korban.

Dan dipersidangan terbukti, menurutnya perspektif Jaksa dan Pengacara justru malah sama sama memberikan keringan kepada terdakwa dengan menyodorkan upaya perdamaian.

Menurut Atin, “ saya bisa memaafkan karena saya manusia biasa,terlebih saya hanya seorang PRT tetapi saya tetap meminta keadilan bagi saya dan pelaku dihukum seberat-berat nya agar setimpal”.

Sidang selanjutnya akan diadakan Kamis tanggal 18 Januari 2018 dengan agenda Pemeriksaan Terdakwa. Dan akan di hadiri organisasi perempuan lainnya bergabung di sidang yang akan datang, tutup Romy.(ad/ol)